KERATON KERAJAAN MATAN KETAPANG

Pusat Pemerintahan Kerajaan Matan Ketapang

RUMAH ADAT MELAYU KETAPANG

Salah Satu Pusat Kebudayaan Melayu Ketapang

HUTAN KOTA KETAPANG

Hutan Kota Merupakan Habitat Hewan dan Tumbuhan Asli Ketapang

BUNDARAN ALE-ALE KETAPANG

Bundaran Ale-ale adalah bundaran sekaligun icon Kota Ketapang

PANTAI TANJUNG BELANDANG

Salah satu Objek Wisata yang ada di Ketapang

Tampilkan postingan dengan label Pusat Kebudayaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pusat Kebudayaan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 April 2015

*INACRAFT 2015,Peluang Bagi Ketapang Promosikan Hasil Kerajinan Daerah

Pengirim : andy candra
Tanggal : 9 April 2015, 6:53 pm


JAKARTA (humas) - International Handicraft Trade Fair (Inacraft) 2015 di Jakarta Convention Center (JCC) pada 8-12 April 2015 tidak ketinggalan diikuti Kabupaten Ketapang. 

Pameran yang dibuka oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang didampingi Ibu Negara Iriana Widodo, Rabu (8/4) tersebut, Kabupaten Ketapang menampilkan kerajinan ayaman, perhiasan batu kecubung dan lain-lain.
Bupati Ketapang, Drs Henrikus M.Si diwakili Kepala Dinas Koperasi UKM Perdagangan dan Perindustrian, Drs H.Syahrani dalam pameran internasional barang kerajinan tangan yang ke-17 yang bertemakan "The Biggest and The Most Complete Exhibition of Gifts and Housewares" merupakan salah satu wadah promosi. Tak hanya promosi, tetapi juga suatu peluang bagi pemerintah daerah untuk memasarkan hasil kerajinan. "Karena itu dalam pameran Inacraf 2015, kita membawa pengrajin kita secara langsung," kata Syahrani, Kadis Koperasi UKM perdagangan dan perindustrian Kabupaten Ketapang.
Pameran yang diikuti 1600 peserta itu merupakan wadah bagi pemerintah daerah dan pengrajin dalam mengembangkan wawasan. Sebab, melalui berkumpulnya hasil kerajinan se-nusantara itu, maka diketahui keunggulan masing-masing daerah, sehingga dengan melihat secara langsung diharapkan kita dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil kerajinan. Dari hasil kerajinan binaan Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan perdagangan Kabupaten Ketapang, ternyata mendapat perhatian serius dari pengunjung. Salah satunya adalah perrmata batu kecubung (amethys) yang dipamerkan Pak Sannar dari Kecamatan Air Upas.
Pengrajin asal air upas ini tak hanya membawa batu alam yang sudah diolah menjadi perhiasan. Tetapi juga membawa bongkahan-bongkahan batu kecububg berbagai warna yang menarik perhatian pengunjung. Demikian juga dengan kerajinan ayaman tangan dari rotan, daun pandan dan lain-lain. "Ayaman tikar dari rotan, baru hari pertama sudah habis terjual, banyak pengunjung sebenarnya yang menanyakan apakah masih ada tikar rotan," kata syahrani seraya menunjukkan sebuah sampel tikar rotan yang tinggal satu buah dan juga sudah dipesan pengunjung.
Pameran yang ramai dikunjungi wisatawan mancanegara, maka stand Ketapang juga tidak luput dari perhatian wisatawan mancanegara. Wisatawan dari jepang, salah satunya tertarik dengan ayaman dari pulau bawal yang dibawa oleh Dinas koperasi UKM Perindag Ketapang. Tak hanya pengunjung yang selalu meramaikan stand Ketapang, bahkan Gubernur Kalbar, yang hadir dalam pembukaan pameran juga menyempatkan hadir di stand-stand asal Kalbar. Ia memberikan motivasi. Pameran terbesar yang sudah berlangsung ke 17 kalinya tersebut akan berlangsung sampai tanggal 12 April. Dalam pembukaan pameran dihadiri Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menegah Ngurah Agung Puspayoga, para duta besar dari negara sahabat, dan asosiasi kerajinan tangan Indonesia.
Menurut Thamrin Bustami, Ketua Umum BPP Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI), dalam laporannya bahwa pameran tersebut 1600-an peserta, baik dari pemerintah daerah, pengrajin dan pengusaha pengusaha industri kreatif..dari pameran tersebut diperkirakan sedikitnya akan mencapai transaksi sampai Rp 120 milyard.@

Selasa, 30 Desember 2014

Malam Tahun Baru 2015, Artis Ibukota “Goyang” Pentas Seni Pendopo

Pengirim : andy candra
Tanggal : 30 December 2014, 3:54 pm


Tahun 2015 menjadi tahun penuh harapan untuk perubahan lebih baik bagi seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Ketapang. Mensyukuri pelaksanaan pembangunan yang sudah berlangsung selama tahun 2014, dan mengharap perubahan di tahun 2015, maka malam pergantian tahun kembali dipusatkan di pentas seni Pendopo Bupati Ketapang.

Malam malam pergantian tahun, warga Ketapang akan dihibur suara merdu penyanyi Pendopo entertaiment, Maya KDI, Saparudin KDI, Inha KDI, dan adegan lucu Doyok Cs. Selain bergoyang bersama penyanyi ibukota, malam pergantian tahun baru, warga juga dihibur dengan pesta kembang api.
Hiburan rakyat dilaksanakan di pentas seni pendopo Bupati Ketapang ini setiap tahun digelar. Ribuan masyarakat memadati kompleks “istana rakyat”. Sebagaimana disampaikan Bupati Ketapang, Drs Henrikus M.Si bahwa hiburan rakyat yang dipusatkan di Kompleks Pentas seni Pendopo ini salah satu tujuannya agar masyarakat dapat bersama-sama merayakan malam pergantian tahun. Melalui hiburan bersama diharapkan dapat mengurangi kemacetan lalu lintas yang biasanya padat menjelang detik-detik pergantian tahun. Semoga Tahun 2015 membawa perubahan lebih baik bagi kemajuan Kabupaten Ketapang. @ Sumber : http://humas.ketapang.go.id/berita_full.php?vN=2362

Selasa, 02 Desember 2014

Pentas Seni Budaya Dayak Ketapang Tahun 2014

Pengirim : Andy Candra
Tanggal : 27 November 2014, 12:05 pm


PENTAS seni budaya Dayak, pameran budaya dan ekonomi kreatif, karnaval dan rapat kerja Dewan Adat Dayak Kabupaten Ketapang tahun 2014, Rabu (26/11) dibuka. Kegiatan dihadiri Ketua DAD Kalbar yang diwakili Yakobus Kumis, dan dibuka oleh Bupati Ketapang, yang diwakili Kadis Budparpora Ketapang, H.Jahilin.

Sambutan tertulis Bupati Ketapang yang dibacakan Kadis Budparpora Ketapang menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada panitia pelaksanaan pentas seni dan budaya Dayak, pameran budaya dan ekonomi kreatif, karnaval dan rapat kerja Dewan Adat Dayak tahun 2014 atas kerja kerasnya sehingga dapat terlaksana dengan baik. Ia berharap event tersebut dapat menjadi ajang untuk lebih memperkenalkan seni budaya daerah khususnya budaya Dayak serta lebih mempererat tali persaudaraan antar sesama anak bangsa.
“Kita menyadari bahwa bangsa kita merupakan bangsa yang majemuk yang terdiri atas berbagai suku bangsa dimana masing-masing suku bangsa mempunyai identitas kebudayaan yang berbeda-beda yang tentu mencerminkan nilai-nilai yang baik dan rasa kebersamaan,” kata Bupati Ketapang diwakili Kadis Budparpora Ketapang.
Ia memaparkan perbedaan-perbedaan itu adalah sebuah anugrah dari Tuhan yang maha kuasa yang harus diterima sebagai sebuah kenyataan. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa akhir-akhir ini perbedaan ini seringkali mencuat kepermukaan. Na mun dalam bentuk yang kadang tidak jarang menjadi sumber perpecahan. Adanya event semacam ini tentu sangat bermanfaat bagi upaya meningkatkan rasa persaudaraan, solidaritas dan persatuan dalam bentuk multikulturalisme dan pluralism yang mengagungkan perbedaan dalam kesamaan derajat untuk mengaktualisasikan dan mengekpresikan budaya dalam atmosfir empati dan saling menghargai.
Di era globalisasi sekarang ini, pengaruh budaya asing tidak dapat kita hindari. Maka apabila tidak disaring dengan cermat, hal ini akan membuat generasi muda indonesia melupakan adat budaya bangsanya sendiri. Oleh karena itu diperlukan berbagai upaya agar adat budaya bangsa indonesia yang sangat beragam dan unik ini tidak lenyap ditelan oleh arus perubahan dan budaya asing yang begitu gencar. Oleh karenanya upaya-upaya pelestarian pengembangan dan promosi budaya harus terus dilakukan sehingga adat budaya kita yang unik dan beragam dapat terus lestari dan berkembang di bumi Indonesia yang tercinta ini.
Kebudayaan merupakan salah satu wujud dari hasil karya manusia yang tumbuh dari hasil, pengamatan manusia yang dilakukan terhadap lingkungannya. Penciptaan kebudayaan ini didasarkan pada pengalaman manusia tersebut atas apa yang mereka rasakan dan alami.”Sebuah budaya bisa dilestarikan dengan cara melestarikan proses kehidupan dalam masyarakat itu sendiri,” paparnya.
Dengan demikian generasi yang akan datang masih mampu untuk menjaga dan menghidupkan kebudayaan tersebut. Dengan menjalankan semua nilai yang terkandung dalam kebudayaan tersebut, termasuk di dalam adalah budaya tradisional yang saat ini sedang kita pentaskan.
Lebih lanjut dipaparkan bahwa dalam prakteknya, pelestarian budaya bukan merupakan hal yang mudah untuk dilakukan. Salah satunya hambatannya adalah perkembangan teknologi yang menyebabkan arus informasi dengan cepat masuk ke dalam masyarakat.
Namun walau dalam kondisi yang penuh dengan hambatan tersebut, tentu tetap ada jalan yang bisa dipilih untuk menciptakan pelestarian budaya, diantaranya adalah menghidupkan kembali proses produksi serta konsumsi budaya pada masyarakat.Dengan cara ini, kita diajak untuk membiasaklan diri dengan kebudayaan local yang menjadi ciri khas dan jati diri suatu masyarakat .
Peningkatan konsumsi budaya harsulah disertai dengan oftimalisasi produksi budaya. Karena apabila budaya yang diproduksi tidak mengalami pertumbuhan, maka lambat laun kebudayaan tersebut akan hilang dengan sendirinya, dan tergamtikan budaya baru yang mampu memenuhi kebutuhan jaman.
“Oleh karena itu pengelolaamn konsumsi dan produksi budaya harus berjalan seimbang agar kebudayaan bisa tetap lestari dan berkembang ditengah masyarakat,” ucapnya.
Ia menyebutkan upaya mengoftimalkan budaya tradisional yang menjadi bagi penting dalam budaya masyarakat indonesia. Diselenggarakannya pentas seni budaya Dayak pameran, karnaval dan rapat kerja oleh dewan adat Dayak Kabupaten Ketapang tahun 2014 adalah sangat tepat dan akan efektif dalam upaya pelestarian dan promosi budaya khususnya budaya Dayak. Bupati mengvharapkan semoga dengan adanya kegiatan ini akan lebih mempererat tali persaudaraan antara sesame anak bangsa dan adat budaya dayak yang begitu beragam dapat dikenal dan dilestarikan di bumi Indonesia.
“Saya atas nama pemerintah Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat sangat memberikan apresiasi, dukungan serta perhatian penuh bagi penyelenggaraan kegiatan ini. Semoga hal ini akan memberikan kontribusi positip bagi upaya pengembangan budaya daerah yang pada akhirnya akan membentuk budaya dan jati diri bangsa kita menjadi lebih kuat,” paparnya.@ Sumber

Senin, 04 Maret 2013

Sultan Banjar Hadiahkan Sebilah Tombak

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG- Sultan Banjar, Khaerul Saleh Al Mu'Thasim Billah termasuk raja yang hadir dalam Festival Keraton Matan Nusantara yang saat ini berlangsung di Ketapang.

Namun sayang, Sultan yang memimpin Kesultanan Banjar di Kalsel ini langsung pulang usai dilaksanakannya pembukaan Festival Keraton Matan Tanjungpura.

Sebelum pulang, dia memberi cinderamata kepada Pangeran Ratu Kertanegara Gusti Kamboja berupa sebilah tombak warisan leluhur Kesultanan Banjar.

Terkait fungsi keraton saat ini, Khaerul Saleh mengatakan tetap akan menjadi mitra pemerintah dalam membangun budaya maupun pembangunan daerah. Hal ini karena fungsi kekuasaan sudah tak dimiliki lagi oleh keraton.

"Sejarah menunjukkan raja dan para sultan di Indonesia seperti halnya di Kalimantan mendukung terbentuknya NKRI," tuturnya. sumber : http://pontianak.tribunnews.com

Raja se-Kalbar Berkumpul di Ketapang

201332_nop_Festival_Matan_(2).jpg
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Meski belum dibuka secara resmi, Festival Keraton Matan Tanjungpura memulai rangkaian acara, Sabtu (3/2/2013) malam. 

Pangeran Ratu Kertanegara Gusti Kamboja menjamu para Raja-raja dan Sultan se-Kalimantan Barat, Kutai, Kotawaringin, Banjar hingga Bangsawan dari Brunei Darussalam dalam permusyawarataan agung.

Dalam sambutannya, Kamboja mengatakan pihaknya sangat bergembira lantaran raja-raja berkesempatan hadir di Keraton Matan Tanjungpura, mengenai pelaksanaan permusyawaratan Agung, ia mengatakan pihaknya hanya selaku tuan rumah dan setiap keputusan ada pada hasil permusyawaratan.

Adapun dalam permusyawaran agung yang digelar usai dilaksanakannya makan malam bersama dengan adat melayu yakni saprahan, pendiri sekaligus Ketua Balai Pengembangan Budaya Melayu, Mahyudin didaulat menjadi moderator.

Pembicaranya adalah Menteri Sekretaris Keraton Kutai Kertanegara , Pangeran Gondo Prawiro, Sultan Banjar Sultan Haji Khaerul Saleh Al Mu' Thasim Billah, Bangsawan Brunei Darussalam Syarif Abubakar dan terakhir Gusti Suryansyah. sumber : http://pontianak.tribunnews.com

Bangsawan Brunei Kunjungi Rumah Tua

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Usai santap siang saprahan di Keraton Matan Tanjungpura, Sabtu (2/3/2013) malam, rombongan kerabat bangsawan Brunei bukannya langsung menuju hotel tempat mereka menginap.

Mereka terlebih dahulu singgah di sebuah rumah tua di Desa Kaum Kecamatan Benua Kayong, Ketapang. Rumah tua itu lokasinya tidak jauh dari Masjid At-Taqwa

Menggunakan pakaian khas seorang bangsawan, Pangeran DR Abu Bakar Muammad Putra Al-Haj, bersama rombongan. Di antara rombongan, terlihat Dosen Fisip Untan, M Sabran Achyar dan Peneliti Balai Pelestarian dan Nilai Budaya Pontianak Muhamad Natsir.

Abu Bakar masih cukup enerjik untuk naik tangga rumah yang tingginya lebih dari satu meter. Dia menuturkan dalam budaya, tak ada mengenal istilah sekat politik ataupun administrasi.

Sehingga wajar halnya apabila Kesultanan Brunei Darussalam juga sangat mengapresiasi Festival yang dilaksanakan Keraton Matan.

Rumah siapakah yang dikunjungi itu? Dosen Fisip Untan, Sabran menuturkan rumah yang dikunjungi adalah rumah Datuk Kaya Laksmana Setia Negara yang merupakan Bangsawan Brunei yang beberapa abad lalu menetap di Ketapang.

"Sekarang yang tinggal adalah keturunan-keturunannya. Termasuk saya masih ada silsilahnya," ujar Sabran, ketika mendampingi Pangeran Abu Bakar.

Ia mengatakan kedatangan bangsawan brunei tersebut sebagai bentuk kunjungan silaturahmi serta memenuhi rasa keingintahuannya akan tempat-tempat sejarah sekaligus tapak tilas warga Brunei Darussalam masa dahulu. sumber : http://pontianak.tribunnews.com

Selasa, 12 Februari 2013

Bupati Tutup Pentas Seni Budaya Dayak dan Pameran DAD Tahun 2013


KETAPANG (HUMAS) -- Pentas seni budaya Dayak dan pameran kerajinan DAD tahun 2013 sudah berakhir. Dari pelaksanaan itu, Bupati Ketapang yang juga ketua DAD Ketapang mengevalusi bahwa adanya rapat kerja DAD tujuannya mengarahkan DAD menjadi organisasi yang modern."Baik dari penganggaran, kepengurusan yang jelas, susunan program kegiatan, sehingga tinggal mengimplementasikannya," kata Drs Henrikus M.si dalam penutupan pentas seni budaya dayak dan pameran DAD Ketapang. 

Ketua DAD Ketapang yang juga Bupati Ketapang juga membahas pelaksanaan pameran sudah berlangsung dengan baik. Pameran barang-barang kerajinan khas Dayak, melekat dengan kehidupan kita. Hasil kerajinan in diharapkannya lebih ditingkatkan.juika saat ini peserta pameran diikuti 18 stan, maka kedepan diharapkan bisa 25 stan. Karena itu, hasil kerajinan ini harus terus ditingkatkan. Sehingga hasil kerajinan itu tidak hanya dipamerkan tetapi juga dijual. Bila perlu untuk menampung hasil kerajinan, dibuatkan gudang di ketapang. 
Menurut Drs Henrikus M.Si hal ini sejalan dengan ladanya Kementerian Ekonomi Kreatif. Apalagi, potensi kerajinan di ketapang sangat banyak di kecamatan, uini perlu ditingkatkan sehingga dapat meningkatkan oerekonomian masyarakat."Kalau ada penilaian stand terbaik, sifatnya hanya untuk memotivasi saja," ujarnya. 
Demikian juga dengan loma yang dilakukan. Setiap lomba yang dilakukan selain tujuanya utnuk melestarikan, tetapi didalamnya juga ada makna tertentu, salah satunya dengan waktu.Ia berharap lomba tradisional ini digali dan dikembangkan agar tidak punah. 
"Berkaitan dengan pagelaran, apa yang dilihat disini adalah seni budaya yang sudah diolah, sehingga menghibur," tutu Bupati ketapang. 
Ia mencontohkan pegelaran dari kecamatan Air Upas, bupati mengaku mendapat pujan dari pihak propinsi dan dinilai layak tampil dan layak jual. Begitu juga dari Sandai, simpang hulu dan lain-lain. 
Dalam pagelaran selain seni. Yang sudah diolah sehingga menghibur. Memang ada juga yang sufatnya adat dan tidak bisa diubah. Henrikus mencontohkan ritual senggayong. Dimana, dalam ritual itu diketahui orang Dayak menghargai musim buah. "Itu perlu juga kita tonjolkan ke publik agar diketahui bahwa masyarakat adat menyatu dengan alamnya," ujarnya. 
Pentas seni yang dilakukan di kompleks pendopo disebutkan Henrikus bukan gawai adat. Gawai adat, nanti akan di akukan di kecamatan. Pentas seni adalah seni budaya yang diharapkan dapat menyatukan masyarakat ketapang. Sebabn melalui seni dan budaya diyakini dapat meningkatkan persatuan dalam membangun Ketapang lebih baik.Selain seni budaya, kegiatan tersebut juga dipaketkan program 100 ribu hektar. Karena itulah, Henrikus meminta para camat, untuk melakukan inventarisasi lahan-lahan tidur." Kita ingin Ketapang damai, maju dan sejahtera," tegas Bupati Ketapang. 
Setelah dilakukan penutupan kegiatan pentas seni budaya dan pameran DAD Ketapang, dari sejumlah lomba yang dilakukan diketahui pemenangnya diantaranya. Perlombaan menyumpit, kategori putra perorangan 25 meter, juara pertama diraih Hutapea (Kodim), juara kedua, Andika (Kodim), dan ketiga Ralib (Kodim). Kategoti beregu 25 meter juara pertama diraih dari Kodim 1203 ketapang diikuti regu delta Pawan di tempat kedua dan Dinas pariwisata dan olahraga ditempat ketiga. 
Pada kategori putra perorangan jarak 15 meter juara pertama dipegang Deasy Maria (DAD Kab.Ketapang), juara kedua adalah Yupita (kodim 1203) dan juara ketiga Siam (kodim 1203). Demikian juga kategori putra beregu jarak 15 meter, juara pertama adalah Kodim 1203, juara kedua, DAD Ketapang dan tempat ketiga adalah DAD Kecamatan Delta Pawan. 
Sedangkan kategori kelas eksekutif juara I. Adalah Tato Hadiyan S.iP, juara kedua Budi Mateus, S.Pd, dan Juara III adalah Boy hasan S.sos MM.Kategori putra perseorangan 30 meter (eksebisi) Juara pertama Petrus Yoprianus (DAD Ketapang), juara kedua Cornelius Wiji (DAD Ketapang) dan Juara III Dikky Anthoni (DAD Ketapang). Kemudian, kategori putri perseorangan jarak 20 meter (eksebishi) juara pertama dipegang Yovita Roseva (DAD Ketapang), juara kedua, yupita (kodim 1203) dan juara ketiga Winie (Kodim 1203). Selain itu juga digelar lomba menyumpit tingkat anak-anak.Kategori anak-anak 13 tahun kebawah jarak 10 meter.jura pertama adalah Indra (kodim), juara kedua adalah William Guidovalent Tarigas (Delta Pawan) dan juara ketiga Deand (DAD Kab.Ketapang). Kemudian kategori anak-anak 6 tahun kebawah jarak 5 meter. Juara pertama Tata (DAD Ketapang), juara II adalah Anggie (Kodim) dan ketiga Gege (DAD Ketapang). 
Sedangkan kategori Stand terbaik juara pertama adalah akaran jelai : (DAD Jelai Hulu dan DAD Marau). Juara kedua akaran Pesaguan (DAD Matan hilir selatan, DAD pemahan, DAD sungai Melayu Rayak, dan DAD Tumbang Titi). Juara ketiga akaran sungai Kualan (DAD Simpang Dua, DAD Simpang hulu). Pada lomba kategori melukis perisai, juara pertama Murdianto (Jelai hulu), juara kedua Hengki (sandai) dan juara ketiga adalah Didi (Marau). Pada lomba pangkak gasing. Juara pertama adalah Suriansyah (Disbudparpora). Juara kedua. Adalah Hamus (DAD Nanga Tayap) dan Martin (Disbudparpora). Demikian juga lomba tongkat longgak putra, juara pertama dipegang suri (Delta Pawan), juara kedua, Simon Dayu (Simpang Hulu) dan ketiga adalan Aren (Pemahan).
Selanjutnya lomba tongkat longgak putri dijuarai Atika (Jelai Hulu). Pada lomba menampik beras, juara pertama Silingih (DAD Manismata), juara kedua Rupina (DAD Tumbang Titi) dan juara ketiga Lian (DAD Nanga Tayap). 
Pada lomba tengkuyong berambeh, juara pertama dipegang Sotor (Hulu Sungai). Juara kedua Angelius (Delta Pawan) dan juara ketiga Sikudin (Jelai Hulu). Kemudian lomba Becuncong, juara pertama dipegang Moli (Simpang Hulu), juara kedua Madat (Tumbang Titi) dan ketiga adalah Ivan (Manismata). Lomba rotan segulung, juara pertama dipegang Aren (Pemahan), diikuti Deni (Delta Pawan) sebagai juara kedua dan Hero ditempat ketiga. Penyerahan hadiah dilakukan Bupati Ketapang dan jajaran Muspida Ketapang.(HUMAS)
sumber : http://humas.ketapang.go.id

Minggu, 10 Februari 2013

Lomba Gasing dan Menampik Beras Meriahkan Pentas Seni Budaya Dayak

KETAPANG (HUMAS) -- Memasuki hari ketiga Pentas Seni Budaya Dayak dan Pameran Dewan Adat Dayak Kabupaten Ketapang tahun 2013, kian semarak. Mulai dari Minggu pagi (10/2) digelar lomba olahraga tradisional di kompleks pentas budaya pendopo. 

Lomba yang dipertandingkan diantaranya lomba gasing, becuncong, menampik beras, sumpit, tengkuyong berambeh, dan lain-lain. Peserta yang ambil bagian cukup antusias. Apalagi lomba seperti ini cukup jarang dilaksanakan dalam event tingkat Kabupaten Ketapang. Akan tetapi, olahraga ini berkembang ditengah masyarakat. 
Sementara itu, pameran hasil kerajinan khas Dayak yang diikuti DAD Kecanatan semakin ramai dikunjungi warga. Ribuan warga setiap hari memadati kompleks "istana rakyat". Kesemarakan pentas seni budaya Dayak dan pameran DAD Kabupaten Ketapang tahun 2013 semakin terasa dengan pentas seni budaya pada minggu malam. Tak hanya tarik suara dengan lagu-lagu khas Dayak, dan seni budaya yang dimodifikasi sehingga menjadi cukup menghibur. Akan tetapi, pada pentas seni budaya ini, DAD kecamatan menampilkan kemampuan mereka secara maksuimal. Salah satunya penanpilan tari dari Kecamatan Manismata. Dimana para ibu dari penabuh musik sampai ke penari ini tampil luar biasa. Personilnya yang terdiri dari para manula ini tetap semangat ambil bagian memeriahkan pentas seni.Demikian juga penampilan dari kecamatan lainnya, termasuk ditampilkannya musik senggayong. Dimana, ritual senggayong yang biasa dilakukan pada musim buah ini juga menyemarakkan kegiatan di kompleks pendopo Bupati ketapang. Ruitual Senggayong dimainkan tujuh orang dengan alat musik dari bambu. Menutup pentas seni dan budaya di malam ketiga, alunan lagu "Kayu Ara" terdengar merdu. Kemeriahan pentas seni dan budaya akan kembali semarak pada Senin malam. Dimana, pada malam penutupan ini tak hanaya diisi dengan hiburan. Tetapi sekaligus juga dengan pengumuman dan penyerahan hadiah dari lomba yang dilakukan. (HUMAS) 
sumber : http://humas.ketapang.go.id

Senin, 10 Desember 2012

Prosesi Gunting Rambut dan Tinjak Tanah Adat Melayu Ketapang


Hidup di kandung adat, mati di kandung tanah. Itulah peribahasa orang tua sejak zaman dahulu kala. Dari itulah sejak dulu secara turun temurun adat tetap dipertahankan hingga kini. Walaupun kita percaya bahwa adat istiadat yang kita lakukan sekarang ini sudah menyesuaikan dengan tempat dan pengaruh dari adat budaya yang dibawa dari luar serta pengaruh zaman dan waktu.
Untuk inilah kita perlu untuk mencatat dan memberikan pegangan untuk melaksanakan acara adat Begunting Rambut dan Tinjak Tanah. Mudah-mudahan dengan panduan ini kita tidak terlalu jauh melenceng dari tata cara dan makna dari adat yang akan dilaksanakan.

Gunting Rambut

Apabila anak bayi telah berumur 40 hari dan paling lama usia setahun, diadakan upacara Gunting Rambut dan Tinjak Tanah. Upacara ini bagi masyarakat Melayu yang berdomisili di Kabupaten Ketapang tak ada yang berani mengabaikannya, karena dipercayakan akan berakibat buruk bagi sang bayi kelak. Sebelum diadakan upacara ini, maka sang anak tidak diperbolehkan menginjak tanah. Ini suatu pantang/pemali bagi masyarakat Melayu Kayong.
Upacara ini mulai dari yang sangat sederhana, hingga secara besar-besaran dan mewah, tergantung kemampuan orang tua si bayi.
Karena ada Melayu yang bersandarkan syarak, syarak bersandarkan Kitabullah, maka dalam upacara ini akan terlihat dengan jelas.
Selanjutnya berdasarkan legenda yang dipercaya oleh masyarakat Ketapang bahwa nenek moyang yang berasal dari Indonesia, pertama kali adalah rombongan Tuk Upui dengan ciri berkendit hitam, pada upacara gunting rambut dan tinjak tanah si bayi beri selembar benang warna hitam diikatkan ke pinggang bayi.
Rombongan kedua adalah rombongan yang dipimpin oleh Tuk Bubut bergelang benang. Ini terlihat bahwa sang bayi yang akan mengikuti upacara diberi gelang dari kain berwarna kuning (hal yang sama akan diberikan juga pada anak laki-laki yang akan bersunat).
Upacara gunting rambut merupakan satu paket yang terdiri dari Gunting Rambut, Tinjak Tanah, Betimbang (bagai turunan bangsawan), Mandi-mandi, dan Makan Nasi Adab.
Pada hakikatnya upacara ini adalah melaksanakan Sunnah Rasul yang kemudian digabungkan dengan adat istiadat warisan nenek moyang. Kepada sang bayi kenalkan bahwa ia berasal dari tanah dana akan kembali kepada tanah.
Hal ini diperlambangkan dengan menampilkan tanah sekepal, telur sebiji, paku, dan keminting pada piring ketujuh dari susunan piring-piring setelah tangga dari tebu.

Pelaksanaan Gunting Rambut

Upacara ini didahului pembacaan kita Al-Berzanzi.
Anak bayi yang akan digunting rambutnya dipersiapkan sebagai berikut:
  1. Pemasangan kendit
  2. Pemasangan gelang benang (kain kuning)
  3. Rambutnya diikat-ikat, setiap ikatan diikatkan manik-manik atau hiasan dan kadang uang logam atau cincin emas.
  4. Sebuah talam yang berisi gunting, cincin emas, kelapa cengkir yang sudah dihiasi dan masih berisi airnya sebatang lilin yang menyala, bunga rampai, mata beliung, serta tepung tawar yang sekarang disebut kase beras.
  5. Sebuah talam lagi berisi bunga cucok telur.
Begitu pembacaan Al-Berzanzi sampai ke pembacaan Qasidah Berzanzi yang biasa disebut Asraqal, di mana semua tamu berdiri, maka sang bayi dikeluarkan. Bayi keluar pada saat lagu Qasidah sampai pada Ya Habibi.
Sebelum didahului dengan menaburkan bunga rampai yang berisi permen atau uang logam yang diperebutkan oleh anak-anak. Penaburan bunga rampai tersebut dimaksudkan sebagai pemberitahuan dimulainya gunting rambut.
Bayi disodorkan kepada orang yang dihormati baik tentang usia, agama dan adat istiadatnya. Orang tersebut mengambil gunting dan dengan membaca doa singkat untuk kebaikan sang bayi, maka ikatan rambut digunting. Setelah menggunting, maka yang bersangkutan diserahkan sebuah bunga cucok telor.
Selanjutnya pengguntingan rambut bayi diserahkan ke beberapa orang berikutnya sesuai dengan jumlah bunga cucok telor yang tersedia dengan hitungan ganjil, yaitu minimal 3 maksimal 7.
Kadang-kadang dibawakan Qasidah Berzanzi yang sudah sangat langka dan hampir punah di tanah Kayong, yaitu Qasidah Berzanzi yang diiringi dengan gendang tar, yaitu disebut Seraqal Tue Semayok Kecamatan Tumbang Titi dan 8 kali perubahan lagu dan pikulan pada gendang tar dengan urutan sebagai berikut, Siun, Cang Dua, Gentar Tiga, Wajo, Lampas, Beruas, Cak Trum/Ketipung, Tanjung Pasir, dan Tahtim.
Budaya ini mungkin mengingat kita bahwa pada waktu Rasulullah tiba di Yasrif atau sekarang Madinah, maka para penyambut menyanyikan Qasidah Tala’al Badru sambil memukul gendang.

Tinjak Tanah

Acara Ini tak terpisahkan dari acara gunting rambut. Hanya kadang-kadang karena kesanggupan orang tua sang bayi belum cukup, maka terpaksa acara Tinjak Tanah ditunda untuk sementara waktu.
Bahan yang dipersiapkan adalah sebagai berikut:
  1. Balai Jawe. Sebuah bangunan berupa rumah mini tanpa dinding (balai).
  2. Tebu kuning secukupnya untuk dibuat tangga dan bangunan seperti atap.
  3. Juadah sebanyak 6 jenis yaitu: dodol merah, dodol putih, cucor, ariadam, cengkarok, dan sesagun yang masing-masing ditaruh dalam sebuah piring.
  4. Sepiring lagi berisi tanah dan sebiji telur ayam kampung.
Tebu yang telah dibuat tangga tersebut ditutup dengan kain batik 7 lapis atau sekurang-kurangnya 3 lapis.
Kue-kue yang di dalam 6 buah piring dan piring ketujuh yang berisi tanah dan telur disusun di depan “tangga” dengan urutan, dodol, dodol putih, cocor, ariadam, cengkarok, sesagun, tanah, telur ayam, dan paku keminting.
Begitu gunting rambut selesai, maka anak bayi tersebut mula-mula melewati bangunan yang dinamakan Balai Jawe (khusus untuk anak kaum bangsawan) yang disambut oleh seorang pemuda dan langsung diinjakkan ke tangga dari tebu. Sampai di puncak, lalu menurun dan diinjakkan ke piring-piring yang berisi kue-kue tersebut. Setiap putaran maka kain penutup tangga tebu dibuka. Setelah genap tujuh kali, maka telur dipecahkan dan diinjakkan ke kaki sang bayi.
Biasanya tangga tebu tersebut dilemparkan ke halaman rumah lalu jadi rebutan anak-anak dan juga orang tua yang punya anak kecil serta kakek-kakek yang punya cucu. Namun biasanya sebelum sempat dilempar ke halaman langsung diperebutkan.
Perebutan tangga tebu ini menandakan bahwa cara Tinjak Tanah telah selesai.
Makna dari kegiatan Tinjak Tanah ini adalah:
  1. Sang bayi turun dari rumah yang dilambangkan dengan Balai Jawe.
  2. Dalam mengarungi kehidupan ada naik dan turunnya dengan perlambangan tangga tebu.
  3. Dalam mengarungi kehidupan mengalami pahit manisnya kehidupan dengan perlambang juadah-juadah dalam enam buah piring.
  4. Lambang paku, keminting merupakan doa bagi sang bayi agar tegar dalam mengarungi kehidupan kelak.
  5. Akhirnya disadarkan kepada sang anak bahwa kita ini berasal dari tanah dan kembali ke tanah dengan perlambang memecahkan telur ayam di atas tanah pada piring terakhir.
  6. Adapun rebutan tangga tebu adalah suatu perlambang bagi sang bayi, bahwa rezeki dari Allah tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus diusahakan dengan tangan, akal, dan pikiran.

Betimbang

Selanjutnya bagi anak turunan bangsawan Betimbang dengan dacing kayu yang dalam daun timbangan berisi, beras, gula merah, kelapa setampang, pisang sesisir, rempah-rempah, dan buah kundor.
Satu-satu si bayi diletakkan di daun timbangan yang berisi kain 7 lapis, sedang daun timbangan yang sebelahnya diisi dengan barang-barang tersebut di atas.
Makna dari upacara betimbang ini adalah suatu doa ke hadirat Allah SWT agar kelak sang bayi menjadi orang yang bermanfaat bagi orang tua dan masyarakat dengan kata lain memiliki bobot.

Mandi-mandi

Setelah upacara penambangan, maka sang bayi dimandikan secara umum sama seperti mandi 3 malam pada upacara perkawinan. Namun secara khusus terutama di desa-desa yang terletak di pinggir sungai mandi tersebut langsung dibawa ke sungai oleh seorang dukun dengan iringan gendang tar.
Untuk upacara mandi ini tidak terbatas hanya kepada anak turunan bangsawan, namun rakyat biasapun melaksanakannya.

Makan Nasi Adap

Jika telah selesai acara mandi-mandi, maka sang bayi dibawa masuk dan diganti pakaian. Setelah itu didudukkan seperti pengantin kawin/sunat menghadapi nasi kuning. Kemudian secara simbolis nasi dengan kelengkapannya disuapkan kepada sang bayi. Kemudian dibacakan doa selamat tolak bala.

sumber  :  http://www.equator-news.com/ketapang/20100406/prosesi-gunting-rambut-dan-tinjak-tanah-adat-melayu-ketapang

Minggu, 02 Desember 2012

Festival Penyanyi Dangdut Se-Ketapang Segera Digelar



Pencinta musik dangdut punya kesempatan untuk meramaikan festival penyanyi dangdut se-Ketapang.Festival akan digelar di pentas hiburan rumah dinas Bupati Ketapang pada tanggal 27-30 Desember 2012. Sebelum festival dimulai, calon peserta akan melalui proses audisi yang ditest oleh Kriwel. Pada final festival, penilaian akan dilakukan juri lokal ditambah artis dangdut seperti Ikke Nurjanah, Tommy Ali, dan Maya KDI. 

Kepastian akan dilaksanakan Festival Dangdut Se-Kabupaten Ketapang terungkap dalam pertemuan panitia yang dipimpin langsung Bupati Ketapang, Drs Henrikus M.Si, didampingi Wakil Bupati Ketapang, Boyman Harun SH, Sekda Ketapang Drs H.Andi Djamiruddin M.Si dan Asisten III Setda Ketapang, Hj.Normaniah S.Sos. 
Bupati Ketapang mengarahkan dalam mengembangkan bakat seni tarik suara ini, hadiah dipersiapkan cukup menarik. Karena itu panitia mempersiapkan uang pembinaa untuk pemenang pertama putra dan putri sebesar Rp 10 juta, pemenang kedua Rp 7 juta, pemenang ketiga Rp 5 juta. Harapan I Rp 3 juta, harapan II Rp 2 juta, dan harapan III Rp 1 juta. Nantinya, peserta pria di wajibkan membawakan lagu berjudul Cinta hitam dari Meggy Z. Sedangkan lagu pilihan diantaranya Cinta Sampai disini (Mansyur S), Sudah Tahu Aku Miskin (Muchin Alatas), Maya (Mocsin Alatas), Masih Adakah Cinta (Latif Khan), dan Sisa-Sisa Cinta (Ona Sutra). Sedangkan lagu wajib peserta wanita adaah Iming-iming dari Rita S. Lagu pilihannya,Selalu Milikmu (Ikke Nurjanah),Senyum dan Hatimu (Ikke Nurjanah),Pria Idaman (Rita S), Cinta Berpayungkan Bulan (Rita S) dan Jangan Marah (Rita S). 
Menurut Syahran, humas festival dangdut se-Ketapang, bahwa dalam rapat yang dipimpin Bupati dan Wakil Bupati Ketapang, disepakati syaray lomba diantaranya peserta berdomisili di Kabupaten Ketapang. Usia 18-30 tahun. Dimana dalam pendaftaran di Dinas Budparpora Ketapang (1-15 Desember 2012) harus melampirkan foto copy KTP, ijazah, atau identitas lain. "Bagi pemenang lomba mesti bersedia menjadi penyanyi pendopo entertaiment," kata syahran, yang juga Reporter Renita FM. 
Dalam lomba nantinya, panitia lomba memilih 60 peserta yang terdiri dari 30 putra dan 30 putri melalui audisi. Penyanyi lolos berhak untuk mengikuti lomba pada tanggal 28-30 Desember 2012, bertempat di pentas hiburan Rumah Dinas Bupati Ketapang. Sebelumnya, dilakukan audisi pada tanggal 16-18 Desember 2012 bertempat di ruang rapat Kantor Bupati Ketapang."Pengumuman lulus audisi pada tanggal 19 Desember 2012,dan Technical Metting Pada tanggal 20 Desember 2012," papar Syahran. 
Lebih lanjut, ia menguraikan pengambilan nada bagi yang lulus pada tanggal 21-22 Desember 2012 di pendopo Bupati Ketapang. Setelah tahapan tersebut dilalui, dalam babak penyisihan peserta hanya membawakan satu lagu wajib.sedangkan babak final di wajibkan membawakan satu lagu wajib dan satu lagu pilihan, khusus lagu pilihan peserta memilih satu lagu diantara lima lagu pilihan yang sudah ada dengan cara acak atau diundi pada waktu tampil di atas pentas.@
sumber : http://www.humas.ketapang.go.id/berita_full.php?vN=1710

Selasa, 30 Oktober 2012

Hari Jadi Ketapang Ditetapkan 11 Maret 1418

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Ketua DPRD Ketapang Kalimantan Barat Gusti Kamboja mengatakan, ditetapkannya hari jadi Ketapang secara bersamaa oleh DPRD dan Pemkab Ketapang, merupakan indikasi pemerintah daerah pada diskursus tentang eksistensi sebuah peradaban dan sejarah sosialnya. 

"Penetapan hari jadi Ketapang tidak hanya melahirkan kepastian sejarah lokal tetapi juga social kewajaran sejarah, dan lebih dari itu memunculkan semacam kepercayaan dari masyarakat Ketapang dengan identitas lokalnya," kata Gusti Kamboja Selasa (30/10/2012).

Pada proses pencarian kepastian sejarah telah banyak pihak yang melibatkan diri, mulai dari pemerintah, pemerhati kebudayaan, sejarawan, akademisi, tokoh masyarakat dan berbagai pihak lainnya. 

Beberapa kegiatan pun telah dilakukan mulai, dari diskusi, seminar dengar pendapat. Dukungan ini telah diberikan kepada para pihak, mulai dari tokoh masyarakat, seluruh anggota DPRD Ketapang dan bupati.

"Dalam penetapan hari jadi kota Ketapang, didasarkan pada prasasti nisan, Makam Keramat Sembilan di Negeri Baru yang beratrikh pada tahun 1340 Saka atau 1418 masehi, dan merupakan prasasti sejarah tertua yang ditemukan di Kalimantan Barat." Katanya.

Penulis : Ali Anshori
Editor : Bowo

Senin, 24 September 2012

Sair Gulung Khasanah Budaya Melayu





TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Berbekal secarik yang digulung dan berisikan sair-sair hasil karyanya, Mahmud tampil di hadapan tamu undangan pada acara HUT PWRI ke 50 di pendopo Bupati Ketapang Senin (24/9/2012).

Dengan suara khasnya, Mahmud membacakan satu persatu sair yang dipersiapkan. Penampilannya  itu dibuat para hadirin tertawa, kemudian memberi tepuk tangan, karena sair-sair yang dibacakan oleh Mahmud berisi tentang candaan, .

Sejenak kemudian para tamu terdiam dan terpana ketika Mahmud membacakan sair yang mengandung pesan moril.

Mahmud mengatakan, keahlian dalam membuat sair gulung tersebut dia dapat dari beberapa orang, diantaranya guru, dan orangtuanya.

 "Sair gulung ini merupakan khasanah, kebudayaan melayu yang harus dipertahankan, sebab dengan sair gulung ini kita bisa menyampaikan pesan dan sekaligus memberikan hiburan kepada orang, namun tidak ada yang tersakiti" katanya, Senin (24/9/2012).

Penulis : Ali Anshori
Editor : Jamadin

Jumat, 31 Agustus 2012

Makam Raja Tanjungpura Diserbu Pengunjung


KETAPANG – Setiap perayaan Idulfitri, makam Raja-raja Tanjungpura dan Lapangan Sapu Jagad di Desa Tanjungpura Kecamatan Muara Pawan didatangi ribuan peziarah.
“Dari hari pertama sampai kelima Lebaran, dalam satu hari ribuan pengunjung makam Tanjungpura dan Padang Khalwat, paling ramai hari kedua sampai ketiga,” ujar Herlinda, warga Desa Tanjungpura.
Walaupun menuju lokasi ini, peziarah dari Kota Ketapang harus melewati jalan tanah sekitar 30 kilometer bukan menjadi halangan mereka. Selain kondisi jalan tanah yang berdebu dan banyak lubang, serta terik matahari di kawasan gambut yang dilewati. Untuk mencapai kompleks makam Raja-raja Tanjungpura serta Lapangan Sapu Jagad yang terletak di pematang dengan struktur tanah merah ini, sebelumnya warga harus melewati jembatan darurat yang dibuat warga di sekitar Danau Mensubuk.
Satu jembatan panjangnya sekitar 300 meter dan satu jembatan lagi sekitar 50 meter. Untuk melewatinya pengendara sepeda motor harus mengganti biaya pembuatan jembatan masing-masing lima ribu rupiah. Walaupun mencapai kompleks makam Raja-raja Tanjungpura cukup melelahkan, namun setiap kali perayaan Idulfitri, puluhan ribu warga dari berbagai penjuru Ketapang, bahkan tidak sedikit dari Kota Pontianak mengunjungi tempat ini.
Mereka ziarah karena menunaikan niatnya. Tidak sedikit yang yakin dengan Lapangan Khalwat (Lapangan Sapu Jagad), selain berniat dan salat di tanah lapang tempat Syech Al-Magribi bertafakur dan mengajarkan dan menyebar agama Islam. Selain mempunyai nilai historis dalam lembaran penyebaran Islam, lapangan ini juga ada sesuatu yang dianggap “berbeda” dari lainnya. Lapangan tanah merah yang menghadap ke kiblat ini tidak pernah ditumbuhi rumput, serta tak ada daun yang masuk lapangan ini.
“Padahal sekeliling lapangan terdapat pohon-pohon rindang,” ujar Yusuf, salah seorang pengunjung.
Para warga juga mengambil air dari sumur Lapangan Khalwat. Air yang dimanfaatkan juga oleh masyarakat desa untuk kebutuhan air minum, sumurnya tidak pernah kering. Padahal pada musim kemarau Sungai Pawan mengering. Air tersebut juga sangat jernih dan lebih jernih dari air mineral. Air yang diambil dari sumur tempat wudu. Raja-raja dan Syech Imam Al-Maghribi tersebut diyakini punya khasiat bagi yang berniat untuk berobat dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT. Mereka juga memanfaatkan air sumur tersebut untuk mandi membersihkan diri.
Pada Idulfitri tahun ini bersamaan juga dengan musim kemarau. Sungai Pawan yang terletak tidak jauh dari makam raja-raja menjadi salah satu tempat warga rekreasi. Karena dasar sungai pasir tersebut saat ini hanya memiliki kedalaman 40-50 cm. Tak pelak lagi, warga memanfaatkan momentum ini untuk mandi di aliran sungai terpanjang kedua di Kalbar ini. Airnya yang bersih juga sangat menyejukkan.
“Mudah-mudah jembatan permanen segera jadi, dari Ketapang mencapai Sungai Kelik, maupun Tumbang Titi dengan menyeberang di Ulak Medang ruas jalan ini paling dekat sekali, kalau Jembatan Mensubuk sudah selesai, kami yang lewat jalan ini sangat terbantu sekali,” ujar seorang warga Nanga Tayap ditemui warung persimpangan jalan Tanjungpura-Ulak Medang. (KiA) sumber : http://www.equator-news.com

Rabu, 29 Agustus 2012

Informasi Kekayaan Alam dan wisata Belum Optimal



KETAPANG – Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Ketapang, Yudo Sudarto, mengatakan potensi alam dan eksotika Kabupaten Ketapang, merupakan orijinalitas objek wisata yang dapat menjamin sustainability kegiatan pariwisata ke depan. Hal ini, menurutnya, sejalan dengan pergeseran selera tourist saat ini yaitu kembali kembali ke alam.

Ia menilai, kekayaan potensi wisata Ketapang mencakup flora dan fauna, laut dan pesisir pantai, pulau-pulau kecil, hutan, budaya, sejarah, dan atraksi lainnya, di mana kekayaan itu harus selalu tetap dijaga kelestariaannya. “Kabupaten Ketapang menjadi sangat menarik untuk dikunjungi wisatawan, baik wisatawan domestik maupun mancanegara,” ujarnya.

Meski demikian, Yudo juga mengakui adanya kecamatan seperti Kecamatan Marau yang masih minim data potensi wisata. Minimnya informasi data potensi daerah tersebut, menurut dia, menjadi permasalahan tersendiri bagi peningkatan investasi di daerah. Ia mengatakan peranan pemerintah dalam menyusun tahapan dan strategi kebijakan investasi untuk pemberdayaan potensi daerah begitu dominan. “Dengan kebijakan pemerintah daerah yang berorientasi pada peningkatan infrastruktur, kemudahan perizinan, kepastian hukum, dan jaminan keamanan, berusaha akan menjadi hal strategis dalam mendukung investasi,” katanya.

Karena itu, salah satu upaya memromosikan potensi objek wisata yang ada, menurut dia, adalah dengan pemanfaatan teknologi informasi website. Berdasarkan hasil konsultasi dan koordinasi mereka ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalbar, diketahui bahwa pemanfaatan teknologi informasi dalam promosi dan pemasaran pariwisata melalui website diperlukan suatu sajian atau kemasan yang baik

. “Misalnya saja seperti penyampaian informasi harus jelas dan akurat dan potensi objek-objek wisata tersebut harus tampak lebih menarik, sehingga wisatawan jadi berminat untuk mengunjunginya,” terangnya. Selain itu, website juga diharapkan dia dapat memberikan kemudahan bagi para wisatawan yang datang berkunjung. “Semoga dapat menyajikan gambaran yang jelas mengenai pesona objek wisata Kabupaten Ketapang,” ucapnya. (ash)

Senin, 20 Agustus 2012

Melihat Lebih dekat Keraton GM.Saunan


Sahabat ketapang City sudah kah kalian mengunjungi keraton GM Saunan Ketapang dan Melihat langsung isi yang ada di keraton kebanggaan ketapang ini.apabila belum saya akan mengajak melihat foto keraton dari dalam kita akan melihat tempat tidur keraton,singgasana keraton dan lain-lain
inilah tempat tidur yang ada di keraton kerajaan matan ketapang



Ini adalah tempat singgasana yang ada di kerajaan matan ketapang





 Sepasang meriam padam pelita

Sabtu, 11 Agustus 2012

Makam Pangeran Ratu Kusuma Anom Desa Muara Jekak Ketapang




Menurut Catatan Kepala Dinas Informasi Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olaharaga Kabupaten Ketapang, Yudo Sudarto, SP, M.Si, mengatakan banyak peninggalan sejarah berupa situs makam kuno yang terdapat di wilayah ini. Diantaranya adalah makam muslim yang bertarik 7 mesehi dengan tulisan khas pada batu mesan. Petunjuk lain makam ini berasal dari abad ke-12. Di Kota sandai ini juga terdapat makam ibu Sultan Syarif Abdurrahman dan beberapa makam raja yang belum terungkap. Sumber : http://myani2208.blogspot.com

Minggu, 05 Agustus 2012

Belajar Bahasa Ketapang dan sekitarnya


Merantau ke tempat orang memang harus punya modal, modal utamanya keberanian dan kemampuan berbahasa daerah setempat. Kadang-kadang kita seperti orang yang ling-lung karena tidak tahu menahu berbahasa setempat sehingga ketika diajak berbicara hanya bisa senyum senyum sendiri. Nah, khususnya daerah Kabupaten Ketapang dan sekitarnya saya kira anda perlu tahu beberapa kata yang sering digunakan. Kurang lebih dengan bahasa Indonesia sama, hanya kebanyakan kata-kata akhirannya berubah dari a menjadi e.
Kemana = Kemane
Saya = Saye
Iya = Aok
Mereka = Sidak
Anak = Biak
Ayo = Yom
Bagus = Jangak
Senang = Suke
Dingin = Sejuk
Gaya = Lagak
Sedikit = Sikit
Makan = Majoh
Biar =Ka'tiim
Ancai = rusak
Tambahkan = kawankan
Anak beranak = Sekeluarga
Asi = sah,benar
Bujor am = Benar
Beranak = Melahirkan
Calar = coret
Palar = keterlaluan
usah = jangan
susah/sulit = uyoh
Cukup = jejadim
ngerayo = pergi(tidak memberi tahu)
ndak bekabar =tidak memberi tahu
dan banyak lagi silakan tulis di komentar untuk menambahkannya

Semoga berrmanfaat … Source

Selasa, 24 Juli 2012

ASAL MUASAL PUTRI JUNJUNG BUIH



LEGENDA PUTRI JUNJUNG BUIH


Sebuah tradisi lisan yang menceritakan kehidupan leluhur 
kini masih dapat dijumpai ditengah-tengah masyarakat pendukungnya,
 tradisi berupa legenda rakyat daerah Kalimantan Barat 
salah satunya di Kabupaten Ketapang 
yang mempunyai luas wilayah 35.809 Km2 
dan berpenduduk 452.554 orang masih banyak terdapat 
cerita rakyat seperti kerajaan Tanjungpura yang terkenal
 sejak dahulu kala sampai pada saat ini. Sebagaimana telah 
dikemukakan oleh Veeger dalam Teori Interaksionisme masyarakat
 bukanlah memakai konsep-konsep akan tetapi memakai
 dengan istilah “aksi” seperti kebutuhan-kebutuhan social
 seseorang perlu diteguhkan oleh proses interaksi, supaya bertahan.
 Orang bergantung satu sama lain.Hal ini menjadi sebuah proses 
interaksi saling membutuhkan merupakan perekat masyarakat.

Kebutuhan akan sebuah sejarah, tentunya perlu diangkat 
kembali dalam sebuah history sehingga dari cerita tersebut 
akan mengandung makna dan symbol pada masyarakat pendukungnya. 
Seperti yang akan kita angkat dalam cerita tradisi lisan yang berupa legenda rakyat.
 Awal kisah menceritakan dua orang bersaudara 
yang bernama Bujang Bengkung dan Dara Dondang.
Kedua kaka beradik tersebut saling memberikan perhatian
 dan pada akhirnya melakukan hubungan layaknya 
seperti sepasang suami isteri. Hasil dari hubungan tersebut
 melahirkan keturunan dan mempunyai anak berjumlah tujuh orang,
 diantara anak salah satu anak mereka yang paling menonjol sifat 
dan kepribadian dengan wajah yang cantik ialah yang 
bernama Dayang Putung alias Junjung Buih

Beberapa versi tentang cerita putri Junjung Buih,
 seperti Putung Kempat di daerah Sepauk yang 
dihayutkan ke dalam piring besar. Dayang Putung putri Junjung Buih
 yang dihayutkan dengan rakit pisang di daerah gunung Kujau.
 Putri Junjung Buih Ketapang dari hulu sungai Keriau terdampar
 disungai yang banyak tumbuh daun kumpai di sungai Pawan 
dan Junjung Buih Sepauk terdampar di Aji Melayu.

Kisah yang menarik ketika kedatangan rombongan Prabu Jaya 
dari kerajaan Majapahit. Prabu Jaya mempunyai tujuh bersaudara,
 enam saudaranya berniat jahat dengan Prabu jaya
 memberikan racun ke dalam makanan, akibat dari racun 
tersebut Prabu jaya menderita penyakit kulit gatal-gatal. 
Atas laporan saudara-saudaranya maka Prabu Jaya 
diasingkan keluar dari kerajaan berlayar mencari tempat 
yang baik bagi kehidupannya, sampailah ia pada suatu 
tempat yang kini bernama kuala Kandang Kerbau, 
disungai inilah kapal berlabuh. Kegemaran prabu Jaya salah 
satunya suka menjala, pada saat menjala, jalanya tersangkut,
 Prabu Jaya turun ke dalam sungai, seketika itu kulitnya dijilat oleh ikan paten,
 belang ulim. Sampai di atas darat ia menemukan sebuah
 gondam yang berisikan rambut panjang tersangkut di dalam jalanya
Dengan niat yang baik Prabu jaya mencari pemilik 
rambut panjang tersebut, dengan menyelusuri sungai
yang bayak tumbuh daun kumpai.

Sampailah ia pada suatu tempat kediaman Ranga Sentap,
 seketika itu ia melihat seorang wanita yang berada 
di dalam buih yang banyak, seorang wanita bisa
 berada di dalam gumpalan buih. Prabu Jaya melihat
 bahwa wanita itu juga mempunyai penyakit yang sama seperti dirinya, 
dipangilnya ikan paten dan ulin belang untuk menjilat penyakitnya,
 maka sembuhlah Dayang Putung dan berubah menjadi nama Junjung Buih.

Prabu Jaya mendatangi kediaman Ranga Sentap yang 
bernama Siak Bahulun raja Ulu Air untuk mempersunting 
Junjung Buih dengan beberapa syarat antara lain; Kalung emas, 
Perahu panjang tujuh depak laki-laki perempuan. 
Gamelan dan beberapa gong. Hasil dari perkawinannya 
melahirkan anak keturunan yang bernama ;
1. Pangeran Prabu yang bergelar raja Baparung di daerah Sukadana
2. Gusti Lekar diangkat dikerajaan Meliau
3. Pangeran Mancar menjadi raja pada kerajaan Tayan

Dari cerita rakyat yang berkembang, bahwa keturunan
 Prabu Jaya dan Putri Junjung Buih tidak akan memakan
 ikan paten dan ikan ulin belang, karena ikat tersebutlah 
yang membantu kesembuhan penyakit nenek moyang mereka. 
(Dalam Ibrahim Baidjuri Sejarah singkat kerajaan Tanjungpura 2006)

Versi lain yang berkembang ditengah-tengah 
masyarakat juga dapat dijumpai dan menjadi kepercayaan
 masyarakat pendukungnya. Dalam sejarah nasional pada
 tahun 1275 raja kerajaan Singosari adalah Kerta 
Negara putra dari Wisnu Wardani ingin menyatukan nusantara 
di dalam satu Negara pada saat itu Kerta Negara menjalankan
 ekspedisi hampir seluruh nusantara. Sementara di Kalimantan 
ekspedisi dijalankan oleh Putra Jaya, dalam hikayat Melayu
 Putra Jaya setelah menjadi raja berganti nama Prabu Jaya
 kerajaan berdiri Th 1275 M dimana ekspedisi Pamalayu-nya 
Kerta Negara mulai dilakukan karena Singosari ditaklukan
 oleh Kediri, maka hubungan dengan kerajaan induknya terputus.
 Matan berdiri sendiri sebagai kerajaan merdeka. 
Kerajaan ini menguasai hampir seluruh Kalimantan, 
kecuali Kalimantan Utara (Brunai) dan Kutai. 
Ibukota kerajaan berada di Benua Lama.
Dari cerita rakyat bahwa kerajaan ini diserang oleh
 kerajaan Majapahit pada jaman Gajah Mada, 
juga ada yang mengatakan bahwa diserang baiak 
laut dari Cina yang menguasai kerajaan Sriwijaya
 setelah Sriwijaya kalah dari Majapahit. 
(Dardi D.Haz dalam sejarah ringkas kerajaan Tanjungpura)
Menurut Ibrahim Baidjuri. Prabu Jaya mengungsi kedaerah 
yang sekarang menjadi desaTanjungpura 
dan semua harta kekayaan kerajaan disembunyikan
 kedaerah Dusun Segedong. Dari beberapa versi 
cerita yang berkembang ditengah masyarakat 
bahwa masyarakat masih menyakini legenda
 Putri Junjung Buih dengan Prabu Jaya adalah
 nenek moyang mereka dan melahirkan keturunan di kerajaan Tanjungpura. 
Hal ini masih dapat dijumpai sampai saat 
ini baik yang menyakut tradisi lisan
 rakyat maupun peninggalan yang masih ada
.berupa kepercayaan masyarakat baik yang
 bersifat tangibel maupun intangibel yang
 berkaitan dengan legenda masyarakat yang masih melekat 
dan masih tetap dijalankan melalui upacara tradisi adat antara lain;
A. Intangibel
1. Upacara bayar niat. Upacara ini dilakukan di tempat-tempat yang diangap keramat seperti keraton Mulia Kerta, makam keramat Tujuh, keramat Sembilan. Maksud dari upacara ini adalah untuk keselamatan bagi diri sendiri maupun keluarga dengan bernazar sebelumnya, jika niatnya terkabulkan maka ia dengan segera menunaikan niat tersebut
2. Upacara Bekalu” adalah sebuah upacara yang dilakukan secara gotong royong pada saat memasang Belat (sejenis keramba besar yang terbuat dari bambu dan diayam menggunakan lembiding (akar paku pakis) berfungsi memperangkap ikan bukan menampung dan dipasang di laut)
3. Upacara Nyapat Taon, adalah upacara untuk mengantar sesaji kelaut yang berupa hasil bumi dengan maksud mengucapkan terima kasih kepada penguasa dilaut.
4. Upacara Bekasah, upacara ini dilakukan jika pada suatu daerah terjadi bencana, paceklik dan merasa terancam dengan memohon keselamatan.
5. Upacara Bebuang penyakit, upacara ini dilakukan jika dari keluarga ada yang sakit dengan melalui media telur sebagai sebuah symbol di hayutkan ke dalam air
6. Upacara Bebuang tali pusar, upacara dilakukan jika bayi sudah tanggal tali pusar, bisa disimpan di bawah rumah, di bawah musollah, di bawah pohon maupun di dalam air dengan menghayutkan memakai Upeh (pelepah pinang)
7. Upacara Keselamatan Ikrar Damai, uoacara ini dimaksudkan adalah untuk keselamatan seluruh warga untuk menghindari pertikaian antar suku
8. Upacara Tempat Sirih, upacara dilakukan jika terjadi selisih paham antara satu sama lainnya.

B. Tangibel
1. Peninggalan koleksi kuno yang berusia ratusan tahun di keratin Mulia Kerta terdiri dari barang-barang dan kain-kain dari usia 40 Th sampai ratusan Tahun
2. Makam keramat Tujuh 1363 atau 1437 M (abad 15)
3. Makam keramat Sembilan 1354 atau 1432 M (abad 15)
4. Makam Iranata (Benua Lama)
5. Candi Kuno
6. Keramik-keramik peninggalan dinasti Cina

Kepercayaan masyarakat masih tetap dilestarikan sampai pada saat ini tetap di laksanakan dan didukung oleh pemerintah daerah Kabupaten Ketapang, dalam rangka melestarikan dan tetap melaksanakan kegiatan upacara tersebut sebagai sebuah peninggalan budaya, juga berupaya mencari atau menyelusuri keberadaan kerajaan –kerajaan yang pernah jaya pada masanya. Khasanah budaya masyarakat Ketapang diharapkan akan mampu menghidupkan semangat masyarakat Ketapang untuk tampil di segala bidang, dan tetap menjunjung tinggi kebesaran nama Tanjungpura.

Berbagai legenda yang kini masih tetap berkembang dan masih terus diselusuri ialah keberadaan Tanjungpura sendiri dari berbagai versi ada yang mengatakan di mulai dari pelabuhan Kandang Kerbau, Matan, Sukadana, Benua lama. Daerah Benua lama yang kini menjadi pusat perhatian diperkirakan salah satu tempat peradaban Hindu kuno karena banyak ditemukan reruntuhan batu bata andesit, keramik, guci-guci dan nisan yang muncul dipermukaan laut pantai.
Tentunya perlu diselusuri keberadaan kerajaan Tanjungpura sehingga dapat menjadi sebuah khasana kekayaan bangsa dan dapat dilestarikan menjadi sebuah sejarah yang tidak hanya dikenal di daerah bahkan akan bisa dikenal dimanca Negara.

• Kisah Awal Kerajaan Tanjungpura
1. Prabu Jaya bergelar Raja Baparung 1275 M
2. Karang Tunjung 1431 – 1501
3. Gala Herang
4. Bandala 1502
5. Sembiring Mambal 1538 – 1550
6. Giri Kusuma 1550


• Giri Kusuma kawin dengan Ratu Mas Jaitan mendapatkan anak
1. Pangeran Iranata
2. Ratu Suria Kusuma
3. Raden Lekar

Pada masa Giri Kusuma berkuasa datanglah seorang bangsawan raja Tengah yang bergelar Sultan Ibrahim Ali Omar Syah dari kerajaan Sarawak (1599 M) keturunan raja Brunai Darussalam anak Sultan Muhammad Hasan (1582-1598). raja Tengah dikawinkan oleh Giri Kusuma dengan adiknya yang bernama Ratu Suria Kusuma hasil dari perkawinan tersebut menurunkan juriat antara lain ;
1. Raden Sulaiman menjadi raja di kerajaan Sambas dan berganti nama dengan nama Sultan Muhammad Tsyafiudin I
2. Raden Badarudin (Pangeran Mangku Negara)
3. Raden Abdul Wahab (Pangeran Bendahara Sri Maharaja)
4. Raden.Rasmi Puri
5. Raden.Ratnawati