KERATON KERAJAAN MATAN KETAPANG

Pusat Pemerintahan Kerajaan Matan Ketapang

RUMAH ADAT MELAYU KETAPANG

Salah Satu Pusat Kebudayaan Melayu Ketapang

HUTAN KOTA KETAPANG

Hutan Kota Merupakan Habitat Hewan dan Tumbuhan Asli Ketapang

BUNDARAN ALE-ALE KETAPANG

Bundaran Ale-ale adalah bundaran sekaligun icon Kota Ketapang

PANTAI TANJUNG BELANDANG

Salah satu Objek Wisata yang ada di Ketapang

Tampilkan postingan dengan label Jembatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jembatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Oktober 2012

Jembatan di Manis Mata Mendesak Dibangun


TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Akses penyeberangan sungai yang terdapat di Desa Kelampai Kecamatan Manis Mata Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat, memakan korban. 

Seorang warga dikabarkan mengalami patah kaki saat akan melakukan penyeberangan di kawasan tersebut beberapa waktu lalu.

Maka dari itu pembangunan jembatan yang menghubungkan Kecamatan Manis Mata dengan wilayah Kalimantan Tengah akan semakin dekat. Apalagi sebagian warga di sejumlah desa saat ini menggunakan jasa penyeberangan di sungai itu.

"Warga sangat berharap sekali agar pemerintah segera membangun jembatan penyeberangan di lokasi tersebut, supaya akses dari Desa Kelampai menuju Kalimantan Tengah lebih cepat," kata Anggota DPRD Alfian Nur kepada Tribunpontianak.co.id, Selasa (30/10/2012).

Alfian mengatakan, dirinya sudah menyampaikan persoalan tersebut kepada pemerintah daerah, dan perusahaan perkebunan yang ada di wilayah itu. 

"Di sana kan sudah ada perusahaan, kita harapkan pemerintah bisa menggunakan dana sharing dengan perusahaan, kalau di perusahaan ka nada program CRS-nya, saya yakin perusahaan mau," kata Alfian.

Alfian mengatakan, di desa tersebut sejatinya sudah ada jembatan, akan tetapi jarak tempuhnya bisa mencapai 2 sampai tiga jam. Namun jika melalui penyeberangan tersebut jaraknya lebih dekat, karena merupakan jalur pintas.

Penulis : Ali Anshori
Editor : Bowo

Selasa, 02 Oktober 2012

Jembatan Pawan 5 Ketapang Mangkrak


TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Proyek pembangunan jembatan Pawan lima, yang menghubungkan antara Kelurahan Mulya Kerta Kecamatan Benua Kayong dengan Kelurahan Mulia Baru Kecamatan Delta Pawan Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat, hingga kini belum rampung. Padahal proyek tersebut sudah menelan anggaran hingga puluhan milyar rupiah.

Tokoh pemuda Benua Kayong, Ujang Yandi, mendesak kepada pemerintah daerah segera merampungkan pengerjaan jembatan tersebut, mengingat dana yang telah dikeluarkan pemerintah sangat besar, sehingga bisa segera dimanfaatkan masyarakat.

"Kalau tidak salah anggaran yang sudah dikeluarkan untuk pembangunan jembatan itu mencapai Rp 66 milyar, dan pada tahun 2012 ini ada penambahan Rp 20 milyar lagi, namun sampai sekarang belum ada tanda-tanda akan dilanjutkan pengerjaannya," kata Ujang Yandi Selasa (2/10/2012).

Yang lebih memprihatinkan, lagi kata Yandi, jembatan tersebut saat  ini sudah mulai mengalami kerusakan, pada bagian pondasi bawahnya. Dia khawatir jika pembangunannya tak segera dilanjutkan, maka kerusakannya akan semakin parah.

"Pada bagian pondasi sebelah Selatan sudah banyak yang mengalami keretakan, padahal pembangunannya belum selesai, ini namanya mubajir," tegasnya.

Yandi berharap kepada BPK untuk melakukan audit terhadap penggunaan anggaran dalam proyek tersebut, hal ini sebagai antisipasi  adanya kemungkinan terjadinya penyelewengan anggaran oleh oknum tak bertanggung jawab.   "Harusnya memang dilakukan audit, supaya jelas anggarannya dikemanakan, masyarakat juga perlu mengetahui persoalan tersebut," pungkasnya.

Penulis : Ali Anshori
Editor : Bowo

Rabu, 08 Agustus 2012

Warga Kelampai Manis mata Ketapang Minta Dibangunkan Jembatan


Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ali Anshori
TRIBUNNEWS.COM, KETAPANG - Warga desa Kelampai Kecamatan Manis Mata, berharap kepada pemkab Ketapang dapat membangun jembatan penyeberangan di wilayah tersebut, sehingga akses tranportasi menuju Pangkalan Bun Kalimantan Tengah Lebih dekat.
Anggota DPRD Ketapang, Dapil Manis Mata, Alfian Nur mengatakan, selama ini warga hanya mengandalkan jasa penyeberangan air untuk menuju daerah sebelah. Kondisi ini tentu saja memberatkan warga, sebab setiap kali jalan mereka harus mengeluarkan uang Rp 5000.
“Di sana sudah ada jembatan, hanya saja harus mutar jauh jaraknya kurang lebih 3 jam, jadi kalau mau ke Pangkalan Bun ditempuh kurang lebih 5 sampai 6 jam, sementara jika melintasi penyeberangan ini waktu tempuhnya menjadi lebih singkat, 3 jam sudah sampai,” katanya kepada Tribun Jumat (29/6/2012).
Alfian mengatakan, di wilayah tersebut saat ini sudah ada dua perusahaan perkebunan kelapa sawit, jika pemerintah berniat membangun jembatan mereka bisa saja sharing dengan perusahaan, sehingga jembatan yang menjadi harapan warga bisa terwujud.
“Ada beberapa warga desa yang memanfaatkan jasa penyeberangan di sana, diantaranya Desa Biku, Desa Sengkuang, Marabung Desa Pelampangan dan Desa Suka Maju, dan langsung ke Pangkalan Bun Kalimantan Tengah,” kata Alfian.
Alfian berharap, pembangunan jembatan di wilayah tersebut menjadi program pemerintah jangka pendek, dan menjadi prioritas utama, dia yakin jika jembatan tersebut terwujud perekonomian masyarakatnya akan semakin baik. Sumber

Jumat, 20 Juli 2012

Jembatan Pawan 5 belum Kunjung Selesai





Jembatan Pawan 5 merupakan Jembatan yang menghubungkan Kelurahan Mulia Kerja Dan Kelurahan Mulia baru yang di harapkan bisa berguna untuk memajukan perekomomian masyarakat ketapang umumnya tetapi sampai sekaran belum selesai padahal menurut informasi saya baca di http://www.equator-news.com yang isinya.


KETAPANG
 
Pembangunan Jembatan Pawan V yang menghubungkan daerah Negeri Baru dan Jalan Lingkar Kota hingga saat ini belum selesai. Padahal dana yang telah digelontorkan tidak sedikit, sekitar Rp 75 miliar.
Wakil Ketua DPRD Ketapang Budi Mateus menilai ada masalah dalam perencanaan pembangunan jembatan yang dianggarkan sejak 2008 lalu. “Urgensinya tidak ada, karena bukan prioritas. Tapi kepentingannya pasti ada. Karena itu sudah telanjur dibangun mau tak mau harus diselesaikan. Sayanglah Rp75 miliar mengapung saja di atas sungai. Sama saja duit sebanyak itu diletakkan di atas sungai tanpa manfaat,” kata Budi Mateus kepada wartawan ditemui di ruang kerjanya, kemarin.
Dikatakannya, pada APBD 2012 hanya menganggarkan Rp6 miliar dari Rp18 miliar utang pengerjaan kepada pihak ketiga (kontraktor). Artinya utang pembangunan Jembatan Pawan V masih tersisa Rp12 miliar. Karena itu kata dia, pengerjaan jembatan tersebut tak bisa melangkah jauh. Belum lagi pembebasan lahan dan pembuatan jalannya.
“Makanya kita tidak bisa melangkah untuk membebaskan lahan, karena utang saja masih Rp18 miliar. Bagaimana mau melanjutkan proyek. Akan kacau membagi pembangunan ke pedalaman. Ke depan harus kita bayar lagi. Tanahnya harus dibebaskan dan membangun jalan. Anggaran membebaskan lahan berbeda dengan membangun jalan,” bebernya.
Budi mengatakan, tak punya target untuk menyelesaikan pembangunan jembatan tersebut lantaran utang masih menumpuk. Dijelaskannya, kalaupun utang itu selesai, berarti baru bisa menyelesaikan bangunan jembatan itu saja. Belum pada pembebasan lahan dan pembangunan jalan menuju jembatan tersebut.
“Kalaupun kita langsung menyelesaikan Rp12 miliar, baru bisa mengatasi yang di atas sungai itu saja. Tidak bisa bergerak ke mana-mana,” kata dia.
Tapi ia mengaku tak mengetahui persis luas tanah yang harus dibebaskan dan berapa panjang jalan yang akan dibangun. Yang jelas, kedua hal itu tetap akan menyedot keuangan daerah. “Mungkin sekitar satu atau dua kilo. Untuk membebaskan tanah juga membutuhkan biaya banyak. Kalau Rp60 ribu saja satu meter sudah berapa. Tapi bagaimana kalau Rp100 ribu per meter? Tanah-tanah di situ pasarannya Rp60-100 ribu per meter. Jadi pembebasan tanahnya saya rasa tidak kurang dari Rp5 miliar,” taksirnya. (KiA)Source


Kamis, 19 Juli 2012

Komunitas Sepeda Ketapang Minta Bangun Jembatan Mensubuk



TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Komunitas sepeda Ketapang Kalimantan Barat berharap pembangunan jembatan Mensubuk, yang berada di Desa Tanjungpura Kecamatan Muara Pawan dipercepat. Pasalnya jembatan tersebut kondisinya sangat memprihatinkan.

 "Kebetulan kami kemarin melintasi jembatan tersebut, akibat kondisi yang demikian itulah masyarakat berinisiatif memperbaiki jembatan secara swadaya. Kemudian mereka memungut setiap kendaraan sebesar Rp 5 ribu, sedangkan disana ada dua jembatan, jadi sekali melintas harus mengeluarkan biaya Rp 10 ribu," kata ketua komunitas sepeda Salamudin, Senin (28/5/2012).

Salamudin mengatakan, akibat adanya pungutan tersebut masyarakat merasa resah. Karena mereka harus mengeluarkan biaya tambahan disaat akan pergi ataupun pulang dari dan menuju Ketapang. Maka dari itu dirinya berharap kepada pemerintah segera merealisasikan pembangunan jembatan mensubuk.

"Karena tidak ada pilihan masyarakat yang melintas mau tidak mau harus bayar uang. Ini tentu sangat membebani masyarakat," katanya.

Salamudin mengatakan, jika jembatan tersebut terus dibiarkan. Maka biaya yang akan dikeluarkan oleh masyarakat akan semakin besar. Dia mencontohkan, jika satu hari saja ada 100 kendaraan yang melintas berarti biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 1 juta.

"Berarti kalau satu tahun sudah Rp 300 juta lebih. Sementara kondisi jembatannya masih seperti itu, harusnya pemerintah juga memperhatikan hal ini, supaya akses transportasi ke sana bisa lancar dan pertumbuhan ekonomi masyarakatnya bisa lebih baik," katanya. Source