Jumat, 05 Oktober 2012

Sektor Peternakan Meningkat



SEKTOR peternakan, khususnya ternak sapi di Kabupaten Ketapang, mempunyai potensi pengembangan yang cukup besar. Ini mengingat  luas wilayah potensi pengembangan sapi yang masih cukup menjanjikan, yaitu sekitar 344.482 hektar. Luasan ini sendiri terdiri dari lahan perkebunan, pekarangan, padang rumput, dan tegalan. Dengan luas lahan ini, Kabupaten Ketapang berpotensi menjadi sentra terbesar di Provinsi Kalimantan Barat, sebagai kabupaten yang mampu mengembangkan potensi ternak sapi. Demikian dipaparkan kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ketapang, Hadi Santoso.

Ia memaparkan, dari hasil pendataan sapi potong, sapi perah, dan kerbau (PSPK2011), yang dilaksanakan bulan Juli 2011 lalu, tercatat bahwa populasi sapi potong di Kabupaten mencapai 27.645 ekor. Hewan-hewan ternak tersebut dipelihara oleh sekitar 7.417 rumah tangga, tiga pedagang, dan satu pemelihara lainnya. “Sedangkan jumlah pemelihara kerbau sebanyak 729 rumah tangga, dengan jumlah ternak kerbau sebanyak 2.364 ekor,” terangnya.

Dari hasil pendataan itu, kata dia, jumlah ternak sapi potong dan kerbau di Kabupaten Ketapang adalah yang terbanyak di antara daerah lainnya di provinsi ini. Bahkan dari total ternak kerbau di Kalbar, sekitar 74,67 persen berada di Ketapang. “Dengan populasi ternak sapi yang cukup tinggi, ke depan dirasa Kabupaten Ketapang dapat mencapai swasembada daging, khususnya daging sapi, bahkan bisa melakukan ekspor ke wilayah lain,” terangnya.

Sementara itu, kepala Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Kabupaten Ketapang, Uray Naviandi, memaparkan bahwa persebaran jumlah sapi paling banyak adalah di Kecamatan Matan Hilir Selatan sebanyak 8.794 ekor dan Kecamatan Benua Kayong, 7.180 ekor. Sedangkan yang paling sedikit adalah di Kecamatan Singkup dan Simpang Dua. Persentasenya, menurut dia, sebagian besar merupakan sapi potong berupa sapi betina sekitar 67,70 persen, sedangkan sisanya 32,30 persen sapi jantan.

Kendati potensi petrenakan sapi di Ketapang mulai berkembang, namun Naviandi menyayangkan sistem pemeliharaan sapi di Kabupaten Ketapang masih belum maksimal dalam mensejahterakan peternak. Ini, menurut dia, karena sebagian besar adalah menerapkan sitem bagi  hasil. Ditambahkan dia, berdasarkan data yang ada, menunjukan sekitar 41 persen sapi yang dipelihara peternak adalah bukan milik sendiri atau dengan kata lain berasal dari pihak lain. “Penerapan sistem bagi hasil tentunya relatif kurang memaksimumkan keuntungan produksi yang didapat peternak, karena harus dibagi dengan pemilik ternak/pemilik modal. Pola kemitraan atau sistem pinjam modal bergulir, misalnya melalui koperasi dirasa mungkin relatif lebih dapat mengangkat perekonomian rumah tangga peternak,” kata Naviandi.  (ash) sumber : http://www.pontianakpost.com

0 komentar:

Posting Komentar