KERATON KERAJAAN MATAN KETAPANG

Pusat Pemerintahan Kerajaan Matan Ketapang

RUMAH ADAT MELAYU KETAPANG

Salah Satu Pusat Kebudayaan Melayu Ketapang

HUTAN KOTA KETAPANG

Hutan Kota Merupakan Habitat Hewan dan Tumbuhan Asli Ketapang

BUNDARAN ALE-ALE KETAPANG

Bundaran Ale-ale adalah bundaran sekaligun icon Kota Ketapang

PANTAI TANJUNG BELANDANG

Salah satu Objek Wisata yang ada di Ketapang

Senin, 15 April 2013

Dari Kalbar ke Kalteng seperti Masuk Negara Lain



Tribunnews.com - Jalanan di Kalimantan Barat tak bisa disebut bagus. Seperti dituturkan Anggun Wicaksono, salah satu tim dari Kompas TV yang tengah menjelajahi Indonesia untuk program "100 Hari Keliling Indonesia".
Ia mengingat kembali perjalanannya saat berada di Kalimantan Barat. Setelah dari Taman Nasional Betung Kerihun, tim berlanjut perjalanan menuju Ketapang. Mereka naik bus selama dua hari.
"Jalanan sepanjang Kalimantan Barat memang jelek. Sekarang ketemu lagi jalanan tetap jelek. Jalanan tanah semua. Kami tidak ketemu jalanan beraspal," cerita Anggun kepadaKompas.com beberapa waktu yang lalu.
Sesampai di Ketapang, tim bertemu dengan Farid Gabang yang pernah melakukan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa di tahun 2009. Ia berjelajah dari Ketapang ke Pangkalan Bun dengan sepeda motor.
"Jadi semacam napak tilas, kami mengulangi perjalanan dengan rute yang sama. Lama perjalanan 15 jam dan sepanjang itu semua sudah berubah jadi kelapa sawit. Dulu sudah ada kebun kelapa sawit, tapi sekarang lebih banyak lagi," cerita Anggun.
Mereka menemukan selama perjalanan, jalur kelapa sawit. Hawa yang panas sudah pasti. Anggun mengatakan bahwa kelapa Sawit seakan merajalela dan merusak kehidupan adat.
"Saat di warung, beberapa penduduk curhat. Ikan (di sungai) sudah nggak ada. Air bikin penyakit, karena racun mercuri dari kelapa sawit. Debit air berkurang. Orang banyak mengeluh karena kelapa sawit. Banyak yang menyesal kenapa dulu jual tanah," tutur Anggun.
Uniknya, saat tim sampai di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, mereka menemukan sesuatu yang berbeda. Menurut Anggun, saat di Pangkalan Bun, jalannya beraspal.
"Dari Kalbar (Kalimantan Barat) saat masuk ke Kalteng (Kalimantan Tengah) seperti masuk ke negara lain. Jalannya super mulus. Kebanting banget. Kami kaget banget, seperti kayak masuk ke Malaysia. Jalanannya bagus kalau di Palangkaraya," kata Anggun.
Dalam program 100 Hari Keliling Indonesia, Ramon memulai perjalanan dari Jakarta menuju Sumatera kemudian Kalimantan. Lalu, berlanjut ke Sulawesi, Papua, Ambon, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Bali. Perjalanan kemudian berakhir di Pulau Jawa, tepatnya kembali di Jakarta.
Bukan hanya sekadar panorama dan segala keindahan bumi Indonesia yang akan diangkat, melainkan juga sisi budaya, masalah sosial, masalah lingkungan, dan problematika transportasi yang dihadapi Ramon selama perjalanan.

Sabtu, 13 April 2013

RSUD Ketapang Operasi Bibir Sumbing Gratis


TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - RSUD Agusdjam Ketapang, menggelar operasi bibir sumbing secara gratis selama dua hari mulai Jumat (12/4) dan berakhir Sabtu (13/4/2013) hari ini. Pada pelaksanaan hari pertama, Jumat (12/4), sebagian besar pasien merupakan anak-anak dari Kayong Utara dan Ketapang.

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Andy Jap yang hadir dalam kegiatan tersebut mengatakan, program operasi bibir sumbing tersebut tidak hanya gratis bagi masyarakat miskin namun untuk semua kalangan masyarakat. Pembiayaan ditanggung oleh sharing pemerintah provinsi, daerah dan donatur.

"Biayanya ada, hanya saja yang menanggung itu provinsi, daerah dan donatur. Program ini untuk siapa saja, tidak hanya masyarakat miskin," kata Andy dalam kunjungannya ke RSUD Agusdjam Ketapang, Jumat (12/4).

Ada pun tenaga kesehatan yang terlibat dalam kegiatan ini yakni dari Universitas Padjajaran Bandung, serta kemitraan dengan pihak swasta. Program serupa juga dilaksanakan di kabupaten lain di Kalbar. "Ada operasi bibir sumbing dan katarak, kalau Ketapang khusus bibir sumbing. Mei mendatang kita ke Kapuas Hulu," katanya. 

Kata Andy, tingkat prevalensi bibir sumbing cukup besar. Secara nasional, dari 1.000 kelahiran terdapat satu anak yang terkena bibir sumbing. "Kasihan anak-anak, kalau dewasa nanti dia minder makanya saat kecil dioperasi, biar dewasa tidak malu," katanya. 

Khusus Ketapang, kata Andy, pola operasi bebas biaya yang menggandeng pihak swasta merupakan yang pertamakali. Direncanakan program serupa juga akan dilakukan di tahun-tahun mendatang. "Kita usahakan setiap tahun ada, cuma saya baru mendapat informasi, Ketapang sebelumnya belum mendapat kesempatan," tuturnya. 

Andy sendiri berharap, program pelayanan kesehatan tak hanya difokuskan tunggal kepada pemerintah. Namun juga dilakukan sharing bersama sektor lain seperti swasta. "Bentuknya bisa banyak, contohnya program seperti ini. Kita sangat mengharapkan peran sektor lain seperti swasta," ujarnya. 

Direktur RSUD Agusdjam, Rihi menuturkan, jumlah pasien yang mendaftarkan diri mencapai 35 dari target awal sebanyak 50 pasie. Namun beberapa di antaranya batal melakukan operasi dengan berbagai alasan. "Ada yang takut, tidak datang, dan beberapa diobservasi lagi karena ditemukan kelainan pada jantung, jadi dikonsultasikan kembali," katanya.

Kata Rihi pasien dan keluarga datang bawa badan saja. Biaya operasi hingga makan dan minum ditanggung. "Datang operasi gratis, kalau operasi umum, biayanya bisa sekitar Rp 10 juta ke atas dan yang ikut sekarang setelah dicek 99 persen adalah warga tidak mampu," katanya. 

Di sisi lain, kata Rihi, RSUD belum memiliki dokter spesialis bedah dan mulut. "Di Kalbar baru ada satu, itu pun di Pontianak, makanya ini kesempatan bagi masyarakat. Setelah observasi selesai operasi juga tetap kita lakukan gratis," katanya. 

Tak hanya warga di seputar Kota Ketapang dan Sukadana yang datang melakukan operasi, tercatat warga terjauh adalah berasal dari Jelai Hulu. "Kita informasikan melalui radio RSPD dan broadcast dari provinsi, juga disampaikan melalui puskesmas," katanya. 

Riana, ibu pasien mengaku, sangat terbantu dengan program operasi gratis. Katanya terbatasnya biaya sempat membuat ia khawatir akan kondisi bibir anaknya. "kasihan kalau dia sudah besar, mau operasi kami tak ada uang, maklumlah cuma petani. Jadi sekarang saya merasa terbantu sekali," katanya.

Penulis : novi saputra
Editor : Arief
Sumber : Tribun Pontianak

Rabu, 10 April 2013

Warga Ancam Duduki DPRD Ketapang


TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Puluhan masyarakat perwakilan dari beberapa desa di Kecamatan Manis Mata mendatangi Kantor DPRD Ketapang, Senin (8/4/2013). Mereka meminta tumpang tindih data lahan yang digarap oleh perusahaan perkebunan PT Maya Agro Investama yang merupakan bagian dari PT Poliplant Group segera diakhiri.

Apabila tak diakhiri, masyarakat mengancam akan menduduki DPRD Ketapang, hingga masalah yang mereka mendapatkan jalan keluar."Kami jauh-jauh dari Manis Mata tidak ingin pulang dengan tangan kosong. Apabila tuntutan kami tak diindahkan, kami akan menduduki gedung Dewan yang terhormat ini," tegas perwakilan masyarakat, Anton saat memulai Audiensi.

Adapun perwakilan mayarakat teresebut berasal dari Desa Mekar Jaya, Desa Lembah Mukti, Dusun Pulai Laman, Desa Asam Besar, DesaSungkai, Desa Kalimantan dan Desa Lipat Gunting. 

Sedangkan dari pihak Dinas Perkebunan diwakili oleh Sutarno dan PT Maya Agro Investama diwakili oleh Kepala perwakilan PT Poliplant Group Ketapang, Daniel S Budiyono. Audiensi sendiri dipimpin oleh Wakil Ketua DPRD Ketapang Budi Matheus yang kemudian digantikan oleh Ketua Komisi II Anthoni Salim.

Perwakilan masyarakat mempertanyakan status penggunaan lahan yang digarap perusahaan. Kata Anton banyak masyarakat yang tak mengetahui bagian lahannya masuk kedalam area. Sedangkan disisi lain masyarakat yang hendak mengajukan program Calon Petani Calon Lahan (CPCL) tidak masuk kedalam data verifikasi Dinas Perkebunan.

"Kami masyarakat kecil memang bodoh tapi jangan dibodoh-bodohkanlah. Kapan lagi pemerintah dan perusahaan bisa mengangkat derajat hidup kami,"pungkasnya

Trauma terhadap perusahaan perkebunan juga diungkapkan Kepala Dusun Pulailaman, Mitan katanya Ia dan masyarakat sudah jera diakali oleh perusahaan perkebunan. Lantaran kasus kepemilikan lahan sebelumnya yang menyangkut dengan PT HSL hingga kini juga tak kunjung usai.

"Kami trauma, belum selesai dengan satu perusahaan sekarang sudah nyambung dengan PT Maya lagi, tolonglah pak jangan kami yang dirugikan terus,"katanya

Penulis : novi saputra
Editor : Arief
Sumber : Tribun Pontianak